Langsung ke konten utama

TOLERANSI DALAM KEBERAGAMAN

 


“We ought to think that we are one of the leaves of a tree, and the tree is all humanity. We cannot live without the others, without the tree. (Pablo Casals)

Vienna International Christian Islamic Summer University (VICISU) 2016 oleh Universitas Wina dan Kementerian Sains dan Riset Austria, masih terngiang hangat di kepala. Sebuah program musim panas yang menyatukan Professor dan 40 mahasiswa terbaik dari 16 negara se Eropa dan non Eropa, seperti Afganistan, Pakistan, Lebanon, Saudi Arabia, Maroko, Indonesia, Singapura, Amerika, Iran, Austria, Jerman, Turki, Bosnia, Ghana dan Oman. Menghabiskan 15 jam perjalanan udara dari negeri saya Indonesia dan 24 hari berjalan diatas cahaya, haus akan pengalaman dan lapar akan ilmu. Banyak hal yang saya pelajari di negeri orang, tak hanya ragam budaya yang penuh ketertarikan untuk dibahas, tapi sebuah pertemuan ragam agama yang begitu sulit untuk saya mengerti. Juga, kesabaran saya habis untuk sekedar berdiam diri. Seringkali saya berangang-angan sebagai tokoh Hanum yang berjuang untuk mempertahankan keyakinannya terhadap Islam di Negara tempat syuting 99 Cahaya di Langit Eropa ini.

Di Stift Altenburg, biara katolik dari Ordo Santo Benediktin yang berusia lebih dari 1000 tahun ini, semua kekeh atas agamanya bahwa Kristen adalah agama yang benar, demikian pun dengan Islam. Tapi satu hal yang membekas dibenak saya sejak awal program bahwa saya tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi penganut Kristen untuk menghargai agama oranglain, begitupun sebaliknya. Karena pada dasarnya, islam dan kristen sama-sama mengajarkan kebenaran. Saya pun sempat beranggapan bahwa pandangan Islam dan kristen terhadap Allah bagaikan pinang dibelah dua. Kedua-duanya memandang Allah sebagai yang Berdaulat, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Suci, Maha Adil, dan Maha Benar. Baik Islam maupun kristen percaya Allah yang Esa; Pencipta segalanya.

Dibenak sebagian penganut lain, islam adalah agama yang ruwet dan penuh aturan, kadang tidak masuk akal dan mempersulit diri sendiri. Salahsatu contoh yang mereka sebutkan adalah aturan wudhu sebelum shalat. Anggapan ini kadang membingungkan bagi pemercaya agama lain, padahal ini tak begitu sulit untuk mereka pahami sebagai Logic Thinker. Pada kesempatan yang sama saya mencoba meluruskan pandangan mereka pelan-pelan bahwa setiap aturan dalam ajaran islam memberi kemudahan dan kebaikan-kebaikan, sama halnya dalam berwudhu, sebenarnya disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan.

Peneliti handal dari Universitas Alexsandria, dr. Musthafa Syahatah, jelas telah menyebutkan bahwa jumlah kuman yang melekat di tubuh orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu. Dengan mencuci kedua tangan, mulut, lubang hidung, daun telinga, wajah, lengan dan telapak kaki artinya kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita. Tak hanya itu, rahasia ini juga dipertegas oleh Prof. Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, ia menemukan sesuatu yang menakjubkan tentang wudhu, bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka, yaitu sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menghubungkan hikmah wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut.

Kondisi yang berbeda. Dimana seseorang mahasiswa asal Jerman memergoki saya dengan botol ditangan. Sekejap saja, bibirnya meletupkan rangkaian kalimat sederhana namun sulit untuk ku jawab “What did you do with your tumblr?” Terdengar lucu dan sedikit mengagetkan, tapi ini perlu untuk saya jawab. Memang sedikit membingungkan di kepala. Setiap kali memasuki toilet kering, saya malah membawa sebotol air. Tentu untuk menjawabnya, saya tidak perlu ragu dan katakan saja bahwa saya menggunakannya setelah buang air kecil dan buang air besar. Itu hal wajar bukan? Tapi ia bahkan mengelak dan katakan mengapa tak menggunakan tissue saja? Dan ini dibenarkan bagi mereka yang memiliki pemahaman yang sama. Tapi, bagaimana dengan kita yang sudah menganggap air adalah lebih suci? Tentu ini tak masuk akal. Sebaliknya, sebuah anggapan datang dari kepalanya bahwa air dan menggunakan tangan tak akan menyucikan. Tentu, memedebatkan itu tak akan habis jika kita tak saling menghargai budaya masing-masing.

Memaknai 16 november ‘International Tolerance Day’ yang tak sekedar istilah. Namun, saya mencoba mengajak pembaca untuk menyadari akan indahnya perbedaan jika dibaluti toleransi yang tinggi. Bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan serta keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, bahasa daerah, dan masih banyak lagi. Meski demikian, Indonesia tetap satu dalam semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”. Keberagaman tersebutlah yang akan menjadikannya sebuah kekuatan, semua tergantung apakah kita bisa bersikap lebih bijak dengan menghargai perbedaan itu sendiri. Sekali lagi. Pada akhirnya kita harus bertanya pada diri sendiri dan menggunakan prinsip cermin. Proyeksi cermin tidak akan berhianat, saat anda berdandan dengan cantiknya, tentu yang terlihat adalah kecantikan anda. Begitupun saat anda menghujat oranglain suatu saat anda juga akan dihujat. Jadi janganlah saling menghujat. Letakkan saja penghargaan satu sama lain, karena Indonesiaku adalah Indonesiamu dan Agamaku adalah agamaku, bukan agamamu.  

“To you be your religion, and to me my religion.” (6)  (QS. Al Kafirun: 1-6)

 

Penulis (Hikmawati) : Delegasi Indonesia pada Program Vienna International Christian Islamic Summer University (VICISU) Austria



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lakum Diinukum wa Liya Diin: لَكُمْ دِینُكُمْ وَلِيَ دِینِ For You Your Religion and For Me Is Mine

Published by Federal Ministry of Science, Research and Economy Press: http://www.univie.ac.at/vicisu/wp-content/uploads/VICISU_2016_Magazin_low.pdf “Say : ( O Muhammad Sallallaho Alaihi Wasallam) to these Mushrikun and Kafirun) : “O Al-Kafirun (Disbelievers in Allah, in his oneness, in his angels, in his books, in his messengers, in the day of resurrection, and in Al-Qadar)! (1) “I worship not that which you worship.” (2) “Nor will you worship that which I worship.” (3) “And I shall not worship that which you are worshipping.” (4) “Nor will you worship that which I worship.” (5) “To you be your religion, and to me my religion (Islam Monotheism).” (6) (QS. Al Kafirun: 1-6)   Vienna International Christian Islamic Summer University (VICISU) 2016 is still warm to re-remember. Met with the 40 best students from 16 countries in Europe and non-European course was a very remarkable occasion. Moreover, in a place so enchanting, Austria. Spending 15 hours of air travel ...

Sarjana Tukang Ojek

Memutar jarum pandang publik, seharusnya pemerintah tidak perlu menyibukkan diri pada peningkatan infrastruktur demi memperlancar pengerukan dan pengapalan bahan-bahan mentah ke luar negeri, sementara lirih pada anak-anak bangsa yang disekolahkan mahal lalu berakhir pengangguran. Melejitnya angka sarjana muda namun berakhir di depan layar kaca televisi di rumah, menonton kabar negerinya tentang pengerukan dan pengapalan batubara atau hasil tambang. Kalau begitu kenyataan yang terus terjadi, maka kita tidak perlu universitas. Karena keadaan negara kita layak orangtua yang menjual sawahnya untuk membelikan sepeda motor pada anaknya dan dijadikan tukang ojek.  Terlalu bangga diri atau sebaliknya. Masifnya pemberitaan mengiyangkan bahwa Indonesia telah mencanangkan visi 2025 untuk menjadi salah satu negara maju di dunia, masuk rentetan 20 negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia, namun secara kwalitas nilai tambah ekonomi Indonesia masih sangat rendah, ekspor ki...